the route to medina


Blog For Free!


Archives
Home
2009 November
2009 July
2009 May
2009 April
2009 March
2009 January
2008 December
2008 November
2008 October
2008 August
2008 July
2008 June
2008 May
2008 April
2008 March
2008 February
2008 January
2007 December
2007 November
2007 October
2007 September
2007 August
2007 July
2007 June
2007 May
2007 April
2007 March
2007 February
2007 January
2006 December
2006 November
2006 October
2006 September
2006 August
2006 July
2006 June
2006 May
2006 April
2006 March
2006 February
2006 January
2005 December
2005 November
2005 October
2005 September
2005 August
2005 July
2005 June
2005 May
2005 April
2005 March
2005 February
2005 January
2004 December
2004 November
2004 October
2004 September
2004 August
2004 July
2004 June
2004 May
2004 April
2004 March
2004 February
2004 January
2003 December

My Links
tika
vicious vagina's blog
matahari hijau
richoz
prittz
Sascha
New York Lover
ninetyniners
jaja-kosong
lita lestari
mocking bird
footnotefia
erotic rose
sad saga
kriuk-kriuk
Blue Dragon
SANDOZ
stars in the sky
azzaxoxo
dita
farika
G
Gandhi - Second Cup
nana & her thoughts
sim f
hotcelebfemale
backpacker
berandalan
ebo
herbi
felicia sie
nadya
irene
putut
decy
iwank
kutulisgerimis
budibudz
skutukata
arbana
lea
alia's realm
akbar - the journey
fanny
aswin

tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images


Sponsored
Blog



the route to medina
03.22.05 (9:07 pm)   [edit]
Malam itu hujan deras, namun serasa tanggung saya memacu motor saya lebih kencang lagi, seolah dalam ratusan meter yang akan terlewati, saya semakin dekat dengan tujuan. Lampu motor tua itu selalu saja lepas setiap kali ban menghantam jalan berlubang hingga kedua tangan yang memegang kemudi harus kehilangan fokusnya untuk memeganginya dan tak ayal basah kuyub sudah pakaian yang ada. Disaat-saat sendiri seperti kala itu saya jadi banyak menghabiskan waktu di kantor hingga pulang larut malam tanpa mempedulikan cuaca yang sedang bergeliat.

Malam yang meninggalkan hujan rintiknya tampak terlalu tua untuk menyisakan penjaja makanan yang saya impi-impikan. Dan tukang sate itu masih mangkal di depan jalan tempat tinggal saya. Hadirnya dia seperti oase di gurun Sahara dikala dahaga mendera. Masih dalam basah kuyub saya memesan 5 tusuk dengan satu lontong untuk ganjel perut malem itu. Dalam basah kuyub ditemani makan sate dan segelas teh tawar hangat seraya memandang motor tua saya. Motor pertama yang saya beli semenjak kedatangan saya ke Jakarta. Dia telah menemani saya cukup lama dan rencana menukarnya dengan motor baru semakin dekat. Sayang memang, tapi benda mati yang tahan banting ini harus tergantikan seiring dengan jaman. Toh, uang yang terkumpul sudah cukup.

Kali lain saya kesana sudah membawa motor baru, si tukang sate sempat tertegun. “Wah, nda salah nih?”. Tidak selang berapa lama, apa yang biasa saya pesan sudah tersaji. Sambil menyeka sisa air hujan di rambut yang sesekali menjatuhi bumbu sate, saya makan lahap dan membayangkan sesuatu yang lebih besar.

Hujan di malam itu adalah hujan yang paling saya nikmati. Setiap butirnya adalah ucapan Hamdallah atas apa yang saya capai, wiper menyapunya begitu butiran menyentuh kacanya. Dan setiap sapuan ke kiri saya seringkali tersenyum sendiri. Tanpa sadar saya menumpukan kedua tangan saya pada kemudi, seolah memeluk kendaraan ini, seperti personal bonding dengan tuannya.

“Lho nda salah nih?” ucapan dan raut ketertegunan tukang sate itu terlihat lagi beberapa menit setelah memarkir mobil. Saya tersenyum dan mengiyakan. Kesendirian malam ini saya nikmati sambil melahap 5 tusuk sate dan segelas teh tawar hangat. Mata saya memandang mobil hitam itu, kemudian menerawang membayangkan sesuatu yang lebih besar. Someday my friend.... someday....


All men dream: but not equally.

T. E. Lawrence
0 Comments
 
Your Name:


Your Comment: