|
Masalah? Kenapa harus ada, kenapa harus di cari? Kenapa lantas bikin hidup lebih berwarna dari yang biasanya? Saya insan iklan yang lumayan insane jadwal kerjanya. Otak bekerjasama dengan bodi memuntir mental supaya bisa membayar tagihan bulanan. Tapi semua tidak berhenti disitu saja. Tuntutan bertambah memforsir bodi yang cukup pedit ini menjadi kian pedit karenanya. Ada keluarga, pertemanan, kerja sampingan dan yang gak kalah rumit dari semua… love life. Yang terakhir disebut tanpa dinyana merenggut 2/3 jam biologis, kalo 1/3 nya kerja… maka pertanyaan abad ini adalah… “Kapan istirahatnya?”.
Awal cerita ini dimulai saat pada suatu malam pulang larut dari rutinitas yang melelahkan, seperti biasa saya mencari sedikit kudapan buat pengganjal perut, atau pengganjal hati karena mungkin perlu sedikit hiburan. Berhentilah di sebuah warung pinggir jalan dengan menu favorit Makanan Khas Surabaya. Entah kenapa rentetan menunya cocok di lidah. Perkenalan dengan menu itu berawal waktu saya kuliah di Bali awal 90-an. Mungkin karena jarak antara Bali dengan Surabaya yang cukup dekat maka banyak pula makanan khas sana yang terkenal.
Sepertinya awal penciptaan mereka hanya Tahu Petis, kemudian di tambah kacang yang di ulek jadilah Tahu Tek-Tek. Inovasi dilanjutkan dengan menambah telur yang di goreng bersamaan, dikenal sebagai Tahu Telor. Waktu kita pikir semua itu berhenti sambil asyik mengunyah Rujak Cingur (Yup, Cingur atau mulut Sapi itulah yang di potong kecil-kecil kemudian di campur bumbu kacang pedas), tak lama berselang di temukan lah Tahu Campur, disini semua resep itu mengalami puncaknya, saat sang Tahu di campur dengan mie, cingur, lidah, kikil, dan petis kemudian di tumpahi kuah kaldunya. Diaduk dan slurrrrpp...
Cukup dengan makanan, kembali ke laptop hehehe... Nah di warung itu mata saya menemukan sesosok manusia setengah baya membawa tas kulit hitam layaknya tukang kredit. Rambut di kepalanya mulai di tumbuhi uban. Matanya sayu dengan bentukan keriput di bawah kelopaknya. Perawakannya lusuh. Duduk tidak jauh dari saya. Setelah kami memesan makanan, Tahu Campur pada saat itu... seringkali saya menemukan matanya menerawang kosong ke arah jalan raya. Seolah dia berpikir alasan apa yang sekiranya dia beri buat istrinya jika hari ini tidak bisa memberikan apa-apa. Tidak bermaksud menjadi sok tahu atas apa yang di pikirannya, kejadian itu membuat saya berpikir bahwa apa-apa saja yang membebani pikiran saya, sangat mungkin otak-otak di kepala bapak itu, mas penjual makanan, atau orang-orang di dalam angkot, pun berkutat menyelesaikan masalahnya masing-masing yang siapa tahu lebih berat dari saya. Apa saya picik hanya melihat sesuatu dari kacamata saya (silinder setengah btw...), atau adalah manusiawi untuk memikirkan diri sendiri?
Pekerjaan, tagihan bulanan, keluarga, sosialisasi, kerja sampingan, liburan, pemanjaan diri, dan love life memang bagian dari masalah dan kita gak akan sepi dari itu semua selama kita masih hidup. Tapi seperti menu makanan semua pasti punya benang merahnya. Melebarkan sedikit pandangan kita ke orang lain membuat kita sadar bahwa harusnya kita selalu bersyukur, bahwa diatas tahu ada telor, dan di atas telor ada bumbu kacang. Di atas semuanya kalau kita cukup sabar, mungkin lidah ini gak akan kebakar oleh panas minyaknya... Nyesss!
“The problem is not the problem; The problem is your attitude about the problem” (Anonymous)
|