ode untuk yang hilang


Blog For Free!


Archives
Home
2009 November
2009 July
2009 May
2009 April
2009 March
2009 January
2008 December
2008 November
2008 October
2008 August
2008 July
2008 June
2008 May
2008 April
2008 March
2008 February
2008 January
2007 December
2007 November
2007 October
2007 September
2007 August
2007 July
2007 June
2007 May
2007 April
2007 March
2007 February
2007 January
2006 December
2006 November
2006 October
2006 September
2006 August
2006 July
2006 June
2006 May
2006 April
2006 March
2006 February
2006 January
2005 December
2005 November
2005 October
2005 September
2005 August
2005 July
2005 June
2005 May
2005 April
2005 March
2005 February
2005 January
2004 December
2004 November
2004 October
2004 September
2004 August
2004 July
2004 June
2004 May
2004 April
2004 March
2004 February
2004 January
2003 December

My Links
tika
vicious vagina's blog
matahari hijau
richoz
prittz
Sascha
New York Lover
ninetyniners
jaja-kosong
lita lestari
mocking bird
footnotefia
erotic rose
sad saga
kriuk-kriuk
Blue Dragon
SANDOZ
stars in the sky
azzaxoxo
dita
farika
G
Gandhi - Second Cup
nana & her thoughts
sim f
hotcelebfemale
backpacker
berandalan
ebo
herbi
felicia sie
nadya
irene
putut
decy
iwank
kutulisgerimis
budibudz
skutukata
arbana
lea
alia's realm
akbar - the journey
fanny
aswin

tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images


Sponsored
Blog



ode untuk yang hilang
08.08.05 (1:12 am)   [edit]
Biasanya ikan gabus bersembunyi di balik batu, di balik daun atau pecahan atap, berbeda dengan ikan lele yang menyelimuti dirinya dalam lumpur hingga keruh atau belut yang diam dalam lubangnya yang dalam. Dan siang itu, di sebuah got kecil, mungkin sekitar 3 langkah orang dewasa lebarnya, dengan kedalaman sekitar 10 cm diatas tumit kaki, saya mencoba menangkap ikan-ikan itu. Gak pernah cukup tau untuk apa, tapi teman saya si Syahril berhasil menangkap 3 ekor gabus, 2 ekor lele,dan 1 ekor belut dalam satu hari tangkapan, saya disini seperti hari-hari sebelumnya mencoba memecahkan rekornya, dan seperti biasa... nihil. Jadi kini semuanya lebih seperti permainan buat saya, dapat atau tidak, tetap tertinggal serunya. Sebuah permainan, pengganti ATARI atau dingdong pada zamannya.

Siang itu saat saya berada dikolong jembatan, dimana lorong gotnya lebih gelap dan katanya ikan-ikan lebih mudah ditangkap, disitu juga saya berkonsentrasi penuh, berhadap-hadapan dengan seekor gabus, dengan kedua tangan menyerupai pengki saya mendekat, tiba-tiba sebuah suara mendehem memecahkan suasana, “Buat saja dam, biar gak ada satu ikan yang bisa lolos dari tanganmu”, katanya. Saya termangu diantara gangguan yang datang. Kepala saya lantas keluar mendongak, dalam kesilauan mencoba menemukan arah suara yang tampaknya saya kenal, “Hi Dad!”.

Itu dan hanya itu kenangan yang mengisi hari-hari akhirnya, bahwa dia seringkali menemukan anaknya yang sepuluh tahun, di kolong jembatan got yang keruh, mencoba membuktikan diri kalo dia mampu atau paling tidak terus berusaha. 6 Agustus ini saya berdiri, dengan kepala tertunduk, tangan menyerupai pengki menghadap muka dengan batu nisan bertuliskan namanya. ...Wakina Azabannar! Selamat Ulang Tahun Dad!

- Kali ini “Semoga Panjang Umur”
sepertinya kini tidak lagi layak diucapkan :( -



"And in the end,
it's not the years in your life that count.
It's the life in your years."

Abraham Lincoln
 


posted by: Andrew (reply)
post date: 03.26.06 (9:05 pm)

Must have really Gotcha

Your Name:


Your Comment: