Blog For Free!


Archives
Home
2009 November
2009 July
2009 May
2009 April
2009 March
2009 January
2008 December
2008 November
2008 October
2008 August
2008 July
2008 June
2008 May
2008 April
2008 March
2008 February
2008 January
2007 December
2007 November
2007 October
2007 September
2007 August
2007 July
2007 June
2007 May
2007 April
2007 March
2007 February
2007 January
2006 December
2006 November
2006 October
2006 September
2006 August
2006 July
2006 June
2006 May
2006 April
2006 March
2006 February
2006 January
2005 December
2005 November
2005 October
2005 September
2005 August
2005 July
2005 June
2005 May
2005 April
2005 March
2005 February
2005 January
2004 December
2004 November
2004 October
2004 September
2004 August
2004 July
2004 June
2004 May
2004 April
2004 March
2004 February
2004 January
2003 December

My Links
tika
vicious vagina's blog
matahari hijau
richoz
prittz
Sascha
New York Lover
ninetyniners
jaja-kosong
lita lestari
mocking bird
footnotefia
erotic rose
sad saga
kriuk-kriuk
Blue Dragon
SANDOZ
stars in the sky
azzaxoxo
dita
farika
G
Gandhi - Second Cup
nana & her thoughts
sim f
hotcelebfemale
backpacker
berandalan
ebo
herbi
felicia sie
nadya
irene
putut
decy
iwank
kutulisgerimis
budibudz
skutukata
arbana
lea
alia's realm
akbar - the journey
fanny
aswin

tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images


Sponsored
Blog



Cerita Buat Surga
03.22.09 (10:50 am)   [edit]

Di suatu pagi buta, sebuah tangan basah melap mukaku. Sekali dua kali saya hanya balas mengerang dan kembali meringkuk di bawah hangat selimut. Kali ketiga saya bangun. Geram karena begitu sayang pada menit yang sebenarnya akan terbuang mubazir, toh masuk sekolah masih sejam setengah lagi. Tapi figur itu tidak pernah gagal membangunkan dengan cara-caranya. Kadang dia menggesek-gesekan jenggot 5 mili-nya ke muka anak lelakinya.

Biasanya saya bangun dan menghampirinya di ruang tamu. Dia duduk di pojok dengan rokok kretek di tangan. Koran baru tergeletak di depannya. Namun tak juga disentuhnya. Dia ingin menghabiskan beberapa menit pagi ini untuk bicara dengan saya atau ibu sebelum menyentuh koran. Biasanya jam delapan. Lalu dia mulai bicara tentang banyak hal, politik, masa kejayaannya, pekerjaannya, hingga hal remeh seperti tetangga. Itu rutinitas tiap pagi yang kita lakukan. Tidak pernahnya dia bertanya apa yang saya hendak lakukan nanti, atau saat besar nanti. Tak pernah dia tanya agama saya, cita-cita saya, kemampuan saya. Karena kebebasan yang dia berikanlah saya disini.

5 tahun sudah sejak dia meninggal. Ayah, ada banyak cerita yang saya ingin sampaikan. Kerinduan itu. Kerinduan akan ritual kita. Pada setiap detik yang berarti di tiap pagi. Kalau lah kita bersua lagi suatu saat. Saya akan bercerita banyak padamu. Tentang agama saya, tentang paham saya, tentang keluarga kita, tentang cita-cita dan pencapaian saya.

Miss

you

Dad!

...
..
.

 

“For many people, God is just Dad with a mask on.” (anonymous)

1 Comments