|
Semua berkumpul di sebuah Stadion tua milik kotanya para dewa itu. Semua peserta Kuliah Kerja Nyata tahun 1998, itu berarti jika Universitas Udayana punya 30 Fakultas dan masing-masing mengirimkan 100 mahasiswanya, maka akan ada 3000 orang yang memadati stadion itu. Setiap orang yang masuk langsung mendapat tiket tribun sesuai warnanya. Sekilas ini seperti gabungan nonton bola dan penataran P4. Saya di tribun 11, di dalamnya ada ratusan mahasiswa berpakaian hitam putih dan dasi hitam, antar tribun dipisahkan oleh pagar kawat. Banyak sekali muka-muka asing, dan tidak seorang pun menarr... wait! Seseorang cewek berparas cantik tampak duduk di depan saya, spontan membuat saya meluluhkan pantat saya di kursi terdekat. Ternyata telat datang kali ini bawa berkah. Tidak lama kemudian susunan nama kelompok keluar, di satu tribun itu akan di tempatkan 10 grup di utara Denpasar. Tiba giliran nama-nama grup 8 disebutkan ada saya, cowok gempal dan gondrong, seorang kutubuku, dan cewek itu! Ya, cewek itu! Hummm... Selanjutnya orang selain dia tidak tergubris lagi. Namanya I Gusti Putu Ayu Chandradewi, panggil dia Chandra.
Kami (karena lantas kaum cowoknya kini berjumlah 8 orang) menjadi pengagum sekaligus nantinya pengambil keuntungan dari kepemilikan 8 lawan jenis yang tiada kunjung henti mendapat kunjungan dari banyak lelaki. Kami lebih beruntung daripada teman yang lain, sementara yang lain tinggal di SD atau Banjar (hirarkis organisasi di Bali yang lebih kecil lagi satuannya daripada kelurahan), tempat yang kami dapati berupa sebuah puri dengan banyak kamar. Maka yang cowok dapat dua kamar, yang cewek tinggal di dalam puri juga dengan dua kamar. Kamar mandi kami harus keluar turun tangga sedikit, persis disamping dapur dan gudang. Ada bale bengong di halaman rumah yang kemudian kami sulap jadi posko mahasiswa KKN. Puri ini di huni oleh beberapa tetua, sisa penghuninya hanya datang di akhir minggu karena kerja di Denpasar dan sekitarnya. Di depan puri ada sebuah pura dan pasar pagi, keberadaan yang di pinggir jalan ini membuatnya paling pertama ditemui jika ada sidak dari Denpasar, tapi ini jadi keuntungan karena kita selalu aman dari sidak, kalaupun iya ada, kita selalu sedia. Kembali ke Chandra, dengan adanya dia, posisi kami yang strategis jadi tidak begitu berpengaruh, karena semua dosen senang datang ke kami. Begitupun para penggebet yang niat datang dari denpasar mengendarai Cherokee, Jeep, BMW, Merci membawa buah, bunga, donat, kue kaleng, cemilan, bahkan rokok berpak-pak. Sepulang mereka Chandra hanya meletakan di dapur untuk kita para lelaki2 lapar nan rakus. Sialnya, tidak ada satupun dari pria-pria itu yang di liriknya. Heran memang. Kalau ditanya, dia bilang saya suka yang moce (dibaca seperti dorce), artinya badung atau slenge'an. Humm... Setiap Selasa dan Kamis adalah giliran Chandra masak buat posko. Perlu diketahui dia tinggal di sebuah rumah di kawasan pemukiman mewah di Denpasar, tinggal dengannya adalah ayahnya seorang kurator, ibunya seorang dokter, adik kecil beserta banyak pembantu rumah tangga. Harusnya dia dengan mudah dilayani oleh dayang-dayang itu. Begitupun dalam hal masak memasak. Tapi masakan Chandra adalah yang kami tunggu-tunggu se-posko. Apapun yang dia masak, ikan gabus, teri, tempe, sayur lodeh, dan masakan aneh lainnya tetap terekomendasi untuk dimakan. Masakannya maut, entah darimana dia belajar membuatnya. Para cowok adalah sekumpulan pembuat onar yang suka kentut sembarangan, minum tuak, main radio panggil, mancing ikan, ngejailin cewek-cewek, pulang ke Denpasar tiap jam 7 malem untuk paginya balik lagi ke Posko. Cuma itu sebagian dari yang terlihat, kami juga membuat tapal batas desa, mengsensus tiap penduduk, membantu imunisasi ternak, mengajar anak SD, dan banyak lagi. Karenanya kita di buatkan pasangan untuk melaksanakan tugas2 tersebut, hasil undian menentukan, saya berpasangan dengan Chandra :D Di suatu kesempatan dia bilang, si orang slenge'an itu mirip aku. Di kesempatan selanjutnya si setia bodoh ini bercerita tentang pacarnya.
Setaun kemudian kami lulus kuliah, wisuda bareng dia, selang beberapa lama, selembar undangan sampai, Chandra menikah. “The only trouble with resisting temptation is that you may not get another chance” (Anonymous)
|