Blog For Free!


Archives
Home
2008 August
2008 July
2008 June
2008 May
2008 April
2008 March
2008 February
2008 January
2007 December
2007 November
2007 October
2007 September
2007 August
2007 July
2007 June
2007 May
2007 April
2007 March
2007 February
2007 January
2006 December
2006 November
2006 October
2006 September
2006 August
2006 July
2006 June
2006 May
2006 April
2006 March
2006 February
2006 January
2005 December
2005 November
2005 October
2005 September
2005 August
2005 July
2005 June
2005 May
2005 April
2005 March
2005 February
2005 January
2004 December
2004 November
2004 October
2004 September
2004 August
2004 July
2004 June
2004 May
2004 April
2004 March
2004 February
2004 January
2003 December

My Links
tika
vicious vagina's blog
matahari hijau
richoz
prittz
Sascha
New York Lover
ninetyniners
jaja-kosong
lita lestari
mocking bird
footnotefia
erotic rose
sad saga
kriuk-kriuk
Blue Dragon
SANDOZ
stars in the sky
azzaxoxo
dita
farika
G
Gandhi - Second Cup
nana & her thoughts
sim f
hotcelebfemale
backpacker
berandalan
ebo
herbi
felicia sie
nadya
irene
putut
decy
iwank
kutulisgerimis
budibudz
skutukata
arbana
lea
alia's realm
akbar - the journey
fanny
aswin

tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images


Sponsored
Blog



Kebebasan Berbahasa Kontol!
03.20.07 (3:38 am)   [edit]

Indonesia mengenal banyak istilah yang cukup aneh, baik itu berupa frase, majas, atau sekedar ungkapan. Anehnya adalah jika suatu saat harus di alih bahasakan untuk suatu kepentingan yang lebih luas cakupannya (baca: Internasional) akan terdengar tidak sesuai. Semisal; “hendak ke belakang” adalah gaya bahasa halus yang digunakan untuk buang air besar (berak) atau kencing (buang air kecil) atau sekedar dandan, tapi begitu di “Inggris-kan” misalnya, akan terdengar “going to the back” dan mungkin si empunya rumah bakal pasang mata curiga, “OK, that’s it.. what do you want, really?”

Kemudian ada istilah bahu jalan, badan jalan, mari kita mempertanyakan hal yang rada belok sedikit. Kenapa polisi tidur yang notabene ada di jalanan tidak sekalian di namakan.. hummm… misalnya… payudara jalan? (hummm…) Atau kontol jalan? (kok kebayangnya tante-tante girang hiperseks bakalan sering lewat dan menikmati turun naiknya ya? Hehe..) Paling tidak bukan lagi polisi yang kebakaran jenggot saat LA Light pasang billboard depan komdak (tulisannya, “Awas Polisi Lagi Tidur!”)… Departemen Agama mungkin?..LOL..

2 Comments
 
Tahu Masalah, Masalah Tahu?
03.11.07 (9:13 pm)   [edit]

Masalah? Kenapa harus ada, kenapa harus di cari? Kenapa lantas bikin hidup lebih berwarna dari yang biasanya? Saya insan iklan yang lumayan insane jadwal kerjanya. Otak bekerjasama dengan bodi memuntir mental supaya bisa membayar tagihan bulanan. Tapi semua tidak berhenti disitu saja. Tuntutan bertambah memforsir bodi yang cukup pedit ini menjadi kian pedit karenanya. Ada keluarga, pertemanan, kerja sampingan dan yang gak kalah rumit dari semua… love life. Yang terakhir disebut tanpa dinyana merenggut 2/3 jam biologis, kalo 1/3 nya kerja… maka pertanyaan abad ini adalah… “Kapan istirahatnya?”.

Awal cerita ini dimulai saat pada suatu malam pulang larut dari rutinitas yang melelahkan, seperti biasa saya mencari sedikit kudapan buat pengganjal perut, atau pengganjal hati karena mungkin perlu sedikit hiburan. Berhentilah di sebuah warung pinggir jalan dengan menu favorit Makanan Khas Surabaya. Entah kenapa rentetan menunya cocok di lidah. Perkenalan dengan menu itu berawal waktu saya kuliah di Bali awal 90-an. Mungkin karena jarak antara Bali dengan Surabaya yang cukup dekat maka banyak pula makanan khas sana yang terkenal.

Sepertinya awal penciptaan mereka hanya Tahu Petis, kemudian di tambah kacang yang di ulek jadilah Tahu Tek-Tek. Inovasi dilanjutkan dengan menambah telur yang di goreng bersamaan, dikenal sebagai Tahu Telor. Waktu kita pikir semua itu berhenti sambil asyik mengunyah Rujak Cingur (Yup, Cingur atau mulut Sapi itulah yang di potong kecil-kecil kemudian di campur bumbu kacang pedas), tak lama berselang di temukan lah Tahu Campur, disini semua resep itu mengalami puncaknya, saat sang Tahu di campur dengan mie, cingur, lidah, kikil, dan petis kemudian di tumpahi kuah kaldunya. Diaduk dan slurrrrpp...

Cukup dengan makanan, kembali ke laptop hehehe... Nah di warung itu mata saya menemukan sesosok manusia setengah baya membawa tas kulit hitam layaknya tukang kredit. Rambut di kepalanya mulai di tumbuhi uban. Matanya sayu dengan bentukan keriput di bawah kelopaknya. Perawakannya lusuh. Duduk tidak jauh dari saya. Setelah kami memesan makanan, Tahu Campur pada saat itu... seringkali saya menemukan matanya menerawang kosong ke arah jalan raya. Seolah dia berpikir alasan apa yang sekiranya dia beri buat istrinya jika hari ini tidak bisa memberikan apa-apa. Tidak bermaksud menjadi sok tahu atas apa yang di pikirannya, kejadian itu membuat saya berpikir bahwa apa-apa saja yang membebani pikiran saya, sangat mungkin otak-otak di kepala bapak itu, mas penjual makanan, atau orang-orang di dalam angkot, pun berkutat menyelesaikan masalahnya masing-masing yang siapa tahu lebih berat dari saya. Apa saya picik hanya melihat sesuatu dari kacamata saya (silinder setengah btw...), atau adalah manusiawi untuk memikirkan diri sendiri?

Pekerjaan, tagihan bulanan, keluarga, sosialisasi, kerja sampingan, liburan, pemanjaan diri, dan love life memang bagian dari masalah dan kita gak akan sepi dari itu semua selama kita masih hidup. Tapi seperti menu makanan semua pasti punya benang merahnya. Melebarkan sedikit pandangan kita ke orang lain membuat kita sadar bahwa harusnya kita selalu bersyukur, bahwa diatas tahu ada telor, dan di atas telor ada bumbu kacang. Di atas semuanya kalau kita cukup sabar, mungkin lidah ini gak akan kebakar oleh panas minyaknya... Nyesss!

 

“The problem is not the problem;
The problem is your attitude about the problem”

(Anonymous)

1 Comments