|
Mari saya perkenalkan dengan salah satu penghuni tetap mimpi saya, mimpi yang terdiri dari jutaan genre namun selalu sukses berakhir dengan pernuh smangat absurditas kartun jepang hehehe... Betapapun serius tema mimpi seperti kematian atau musibah selalu berujung dengan keadaan yang berubah 180", entah tiba-tiba ada superhero tidak berbentuk yang sok melakukan penyelamatan atau set mimpi jadi seolah ada di dunia yang berbeda tema (jumpcut, gak di rekomen utk flow editan TVC ;p ). Anyway, balik lagi ke si penghuni tetap, walopun yang satu ini bukan lagi berbau kartun, tapi akan saya ceritakan saja. Di beberapa mimpi ini saya seringkali di kondisikan tinggal disebuah gang kecil kumuh yang acapkali banjir saluran airnya jika hujan mengguyur. Di rumah itu saya tinggal dengan bos saya, bos yang dimana saya kerja sekarang (di dunia nyata)... jadi kalo pindah kantor, otomatis penghuni rumah itu ganti hehehe... Well, i did mentioned about how absurd it was aight? :) Tapi yang lebih menarik dari semua itu adalah siapa yang tinggal persis di depan rumah di gang berukuran 3 meter-an itu. Rumah itu dihuni sepasang suami isteri keturunan Cina yang kira-kira berusia setengah abad. Sang isteri di klaim sudah tidak produktif lagi di ranjang, jadi si suami secara terang-terangan sering membawa wanita lain ke rumah. Hingga akhirnya hatinya tertambat pada seorang Amoy berusia sekitar 28 th-an. Dia tampak memerlukan figur seorang ayah, disisi lain dia memiliki agenda tersendiri, seorang hiperseks dengan perawakan kurang ajar, (mungkin karena ini mimpi, tapi silahkan gabungkan Gong Li dengan Paz Vega, get the picture? silahkan baca lebih lanjut). Maka hampir setiap pagi, siang sore, malam, yang kita dengar adalah suara lenguhan wanita ini dari lantai 2 tempat tinggal sempit milik mereka. Si isteri lebih sering berada di lantai bawah meratapi nasibnya. Pada beberapa kesempatan mereka keluar bareng dengan sebuah mobil Sapporo jadul. Kemudian, tidak lama pulang, ritual yang sama lagi-lagi kita dengar, orang-orang yang lalu lalang dari geli hingga akhirnya terbiasa mendengar semuanya. Gak sekali si wanita mengeluarkan kepala dari jendela kamar mengambil udara segar, memergoki puluhan laki-laki (termasuk saya) yang melihat keatas menahan ludah di tenggorokan yang juga belum sempat tertelan. Lalu dia melempar senyum nakal dan kembali ke dalam kamar. Dan ritual yang sama terjadi. Well, that's about it. Paling gak jika suatu saat mimpi ini jadi kenyataan, I think I'll know what I'm gonna do. “The best thing about dreams is that fleeting moment, when you are between asleep and awake, when you don't know the difference between reality and fantasy, when for just that one moment you feel with your entire soul that the dream is reality, and it really happened.” (Unknown)
|