|
About a couple of days ago, me with a bunch of office fellas being ask to create a story about a topic picked by my creative director (later to be presented in an internal meeting), and i dunno why he picked "woman" as my theme story ;p. So here it is... ME & WOMAN IN MY LIFE a writing to be share... Ada yang pernah bilang, “When a man have a good time with woman, it never meant conversation” hehehe… Mungkin benar, tapi buat saya mungkin juga salah… Paling ngga itu semua dimulai dari pemahaman saya tentang wanita, yang mungkin ngga sebanyak orang lain. Wanita-wanita yang pernah ada dalam hidup saya yang akan diceritakan adalah ibu saya, tipikal isteri jaman dulu yang patuh dan taat pada suaminya, mengabdi yang kadang salah kaprah terutama setelah saya mendapatkannya mencari nafkah buat orang rumah sementara suaminya belum juga tergerak. Lalu ada seorang gadis kecil yang samar-samar saya ingat disaat TK, Hera namanya, untuk pertama kalinya saya suka dengan lawan jenis, berdebar jantung jika berjalan di depannya. Lalu menghilang begitu saja persis menjelang kita masuk SD. Sejak itu saya tidak lagi menemukan rasa yang sama hingga saya masuk SMP. Yuniarti atau akrab dipanggil Yuyun, kecantikan dan kesederhanaannya memukau saya... cukup mengalahkan popularitas Erika yang kala itu digilai cowo satu sekolah. Sebuah mutiara yang terpendam, dan untuk kali kedua saya merasakan lagi rasa itu. Kekaguman demi kekaguman yang tiada pernah berani terucap. Kelu persis disaat kata-kata menyentuh ujung lidah. Hingga akhirnya saya diadopsi oleh kakak saya di bilangan Jakarta Barat. Disana saya bertemu Baby, cantik dengan lekuk tubuh sempurna. Doktrin anak-anak lewat majalah dan stensil cukup berhasil merasuki pikiran, apakah Baby “the one”? Lewat secarik kertas saya mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan percakapan hingga tidak sebatas "hi" dan "bye!" Dan untuk pertama kalinya saya merasakan rasanya ditolak cewe. Ada banyak lagi wanita-wanita yang kemudian masuk ke dalam hidup saya, kadang berjalan tidak mengenakan hingga puncaknya adalah saat saya dikhianati. Kepercayaan dan keyakinan yang di junjung tinggi lantas jadi berantakan. Sejak itu saya camkan dalam-dalam bahwa pemahaman saya harus di “customize”. Teori kustomisasi cinta hehehe kalo boleh saya bilang, adalah teori untuk tidak terlalu menempatkan cinta pada wanita pada kadar absolut, bermain-main lah sesuai perasaan dan keadaannya pada saat itu. Karena wanita yang sebelumnya saya tahu adalah sosok yang sensitif, emosional, tanpa bantuan nice attitude, physical appearance atau otak yang cemerlang, they might just be a battery without a positive side. ;p Namun ada juga wanita yang walau dijungkir balikan akan selalu mendapat tempat spesial, seperti ibu saya, yang walau begitu dia adalah seorang pelindung dan pemersatu bagi anak-anaknya. Hingga kini dimata saya dia adalah pejuang hidup. Lalu kakak perempuan yang mengadopsi saya, happens to be dia adalah cerminan yang baik buat saya terus melangkah. And without trying to put you girls aside, there’s always some good things that i found... and it stays in some cubical of my heart. Wuff u gals! ;p
|