Blog For Free!


Archives
Home
2008 August
2008 July
2008 June
2008 May
2008 April
2008 March
2008 February
2008 January
2007 December
2007 November
2007 October
2007 September
2007 August
2007 July
2007 June
2007 May
2007 April
2007 March
2007 February
2007 January
2006 December
2006 November
2006 October
2006 September
2006 August
2006 July
2006 June
2006 May
2006 April
2006 March
2006 February
2006 January
2005 December
2005 November
2005 October
2005 September
2005 August
2005 July
2005 June
2005 May
2005 April
2005 March
2005 February
2005 January
2004 December
2004 November
2004 October
2004 September
2004 August
2004 July
2004 June
2004 May
2004 April
2004 March
2004 February
2004 January
2003 December

My Links
tika
vicious vagina's blog
matahari hijau
richoz
prittz
Sascha
New York Lover
ninetyniners
jaja-kosong
lita lestari
mocking bird
footnotefia
erotic rose
sad saga
kriuk-kriuk
Blue Dragon
SANDOZ
stars in the sky
azzaxoxo
dita
farika
G
Gandhi - Second Cup
nana & her thoughts
sim f
hotcelebfemale
backpacker
berandalan
ebo
herbi
felicia sie
nadya
irene
putut
decy
iwank
kutulisgerimis
budibudz
skutukata
arbana
lea
alia's realm
akbar - the journey
fanny
aswin

tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images


Sponsored
Blog



Where Are We?
11.29.05 (11:48 pm)   [edit]
A fine drive at the speed of 60-80km/hrs in my black Katana early in the morning. No air con, a half opened window... please, i'd like to feel the fresh air blowing on my not so long hair like i care. Bogor is the destination.

A cold breeze, a hot coffee, a clear view of a mountain, on a veranda of my empty sister's house. Sussssh! A bird just sat on the tree.

A laptop, A tick tack on the keyboard... a story about a guy who is trying to stand up for what it's right with his own way. An I tunes clicked a song from Damien Rice...

Cold, cold water surrounds me now
And all I've got is your hand
Lord, can you hear me now?
Lord, can you hear me now?
Lord, can you hear me now?
Or am I lost?
0 Comments
 
a sincere mark
11.23.05 (2:52 am)   [edit]
In my life i lost lots of things. Once I lost a wallet. A dog. A bike. A pet. A pencil. A cellphone. A cassete. A cd. A glasses. A key. A shirt. A hat. A pen. A book. A guitar. A bag. A job. A heartbeat. A kiss. A hug. A friend. A girlfriend. A Father. A gut. A passion. A conscious. A grip. A heart. A thinking. A nerve. A word. Many words...



If you ever want something badly, let it go.
If it comes back to you, then it's yours forever.
If it doesn't, then it was never yours to begin with.
Indecent Proposal the movie

3 Comments
 
agony & irony
11.16.05 (12:52 am)   [edit]
O: "quit smoking!"
X: "ok. but you're smoking!"
O: "i know it's bad, that's why i told you not to"

X: "ok. how about stop telling me what to do!"

O: "..."
0 Comments
 
desa itu bernama maturiti
11.10.05 (3:36 am)   [edit]
Bukan, letaknya bukan di Tabanan Bali... ini tempat antah berantah. Maturiti, kalau sampai seseorang sampai disana hendaknya mendapatkan kunci ke segala penjuru. Maka berbondong-bondonglah orang kesana; tua-muda, miskin-kaya, besar-kecil, termasuk saya.

Jalan kesana susah-susah gampang, kadang petunjuknya terbaca jelas, kadang sangat blur. Ada yang bilang, siapa yang lebih dulu kelelahan berlari atau berlompat-lompat akan lebih dulu menemukannya. Ada juga yang bilang dari sekian baju yang kita lepas ganti akan ada salah satunya yang memberi petunjuk kesana. Sering pula ada yang bilang kalo bicara sudah lebih mantap maka kamu sudah sampai di Maturiti. Tak jarang ada yang bilang pengalaman lah yang akan mengantar kamu ke gerbangnya.

Maka saya berhenti berlari, melompat, mengganti baju tiap kali, dan bicara dengan lantang, hijrah ke Astina hingga Kahyangan singkatnya mencari pengalaman, tapi tak jua sampai disana. Paling tidak banyak yang bilang saya masih jauh dari yang dituju. Maturiti, tempat yang absurd, sureal, dan nyaris kontroversial. Hanya orang yang sudah ada disana yang bisa menilai apakah kita sudah disana. Maka saya bertanya pada Shri Panditha, katanya "Apa yang kamu cari?" Saya jawab,"Kebenaran. Hanya akan saya temukan jika saya sudah tiba disana". Sang Panditha menjawab, "Sebenarnya kisanak sudah disana sejak dulu, dengan menjadi diri sendiri, itu adalah kuncinya. Hanya orang yang sudah yakin yang mampu menilai kadar keyakinan seseorang. Maturiti menjanjikan kunci ke segala penjuru. Disaat kita yakin dengan diri kita, maka kitalah sebenarnya pemegang kunci itu..."

Dan Maturiti hanyalah tempat yang absurd,
sureal, dan nyaris
kontroversial.



Spent my lifetime searching for the one
And a lifetime’s work is never done


LEVEL 42
7 Comments