 Blog For Free!
Archives
Home
2008 August
2008 July
2008 June
2008 May
2008 April
2008 March
2008 February
2008 January
2007 December
2007 November
2007 October
2007 September
2007 August
2007 July
2007 June
2007 May
2007 April
2007 March
2007 February
2007 January
2006 December
2006 November
2006 October
2006 September
2006 August
2006 July
2006 June
2006 May
2006 April
2006 March
2006 February
2006 January
2005 December
2005 November
2005 October
2005 September
2005 August
2005 July
2005 June
2005 May
2005 April
2005 March
2005 February
2005 January
2004 December
2004 November
2004 October
2004 September
2004 August
2004 July
2004 June
2004 May
2004 April
2004 March
2004 February
2004 January
2003 December
My Links
tika
vicious vagina's blog
matahari hijau
richoz
prittz
Sascha
New York Lover
ninetyniners
jaja-kosong
lita lestari
mocking bird
footnotefia
erotic rose
sad saga
kriuk-kriuk
Blue Dragon
SANDOZ
stars in the sky
azzaxoxo
dita
farika
G
Gandhi - Second Cup
nana & her thoughts
sim f
hotcelebfemale
backpacker
berandalan
ebo
herbi
felicia sie
nadya
irene
putut
decy
iwank
kutulisgerimis
budibudz
skutukata
arbana
lea
alia's realm
akbar - the journey
fanny
aswin
tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images
Sponsored
Blog
|
| just add an ad |
| 05.26.05 (7:40 pm) [edit] |
Everyday we forced to see many ads. Since the day we woke up till the second we close our eyes. It’s the beauty of presenting messages, wrapping it in a way we sometimes didn’t event realize. It walks with so many choices even while we’re asleep. It guides to an option we never even think about before.
Hollywood, and many film industries has given us dream, a diluted one. One that we thought we could never see. Advertising today, shaping it and making it more possible. The exaggeration of life, some would say. Bold but beautiful, small but elegant, cute but distracting, slice of life… yet a propaganda. We hate that the fact that the people behind it are such a liar bastard! But that’s only put them on the second place after lawyer in hell’s waiting list. And I just can’t lie anymore!
Hate me or love me not. Award for us the adman, is a little temptation to make some changes. Stupid clients are a static obstacle. We should jump across them. Fuck award! Fuck clients! Long live people! Victory to community! And who am I got paid off? Yes boss… we live to distract the need of people and that isn’t a lie. It’s a noble job. Now lemme lick yo big fat ass and quick gimme the money boss, I’m outta here! ;p
"I don't want to be a waving bamboo tree, I want to be an oak who stands against the wind." (Soe Hok Gie)
|
|
0 Comments
|
| |
| Misteri Dibalik Ketawa Kuntilanak |
| 05.17.05 (6:06 pm) [edit] |
Wajah artis karbitan itu sumringah, tertawa sepanjang percakapan yang terjadi di pagi buta saat hujan mendera. Mas Ronggo tiba-tiba menodongkan pertanyaan padanya, “Kunti, ada apa dibalik tawa lepasmu, begitu sarat beban?”. Saya saja bingung mendengarnya apalagi Kunti yang terpaksa menghentikan tawanya. Kemudian dia bertanya, “Apa ada yang salah Mas?” saya mengangguk setuju atas pertanyaannya. Mas Ronggo menatap kosong seraya berkata,“Kamu tertawa pada semua lelucon yang terlempar, kamu tersenyum pada semua orang yang kamu lewati, aneh... seperti ada celah yang ditutupi.” Dia diam. Saya diam, tertarik mengamati obrolan ini. Dan mimik mereka mengatakan, lihat kami berdansa dalam kata.
Kunti terpojok. “Saya memilih tersenyum dan tertawa karena tidak ingin kecewa. Saya tidak ingin berpikir bahwa mereka tidak membalas dengan baik. Saya capek dengan beban perasaan dan pikiran tentang apa yang selayaknya mereka perbuat dari apa yang saya perbuat. Lebih baik saya menelan apapun reaksi mereka dengan tertawa, walau semburan ludah atau tamparan hati adalah reaksinya”. Ronggo mengangguk bijak, “Hmmmh.... Jika kamu dijanjikan 100 lira oleh tuanmu, tapi hanya dipenuhi setengahnya dengan alasan apapun, apakah kamu akan diam saja? Kemungkinan tidak, itu hakmu, adalah manusiawi menuntut hak setelah kewajiban. Ada satu titik tertentu dimana kamu harus berani bersikap, untuk tertawa dan tersenyum jika perlu, atau menangis dan menghunus jika harus.”
Saya duduk diam mencari filosofi dibalik sepenggal percakapan yang terjadi, saya pikir Ronggo ada benarnya, perlu 350 tahun buat bangsa ini keluar dari penjajahan. Tanpa perlawanan, mungkin angka itu akan bertambah dan tak tahu apalah jadinya sekarang. Mungkin kita harus lebih berani berkeputusan, bahkan untuk suatu tarikan senyum.
There’s a thin line between love & hate.(Annie Lenox)
If you can’t fight what’s been hurting you the question would be, “which side of the thin line are you?”
|
|
14 Comments
|
| |
| mendung bukan berarti tidak hujan |
| 05.16.05 (6:16 pm) [edit] |
“Hmm… hujan lagi!” kata bos saya. “Tidak, orang tidak hujan kok!” respon saya. Namun dalam hitungan detik air mengguyur dengan deras lokasi syuting malam itu. Kami berlari berteduh, si bos seorang pria tengah baya yang malam itu tidak disangka akan mengeluarkan statement yang bikin dahi saya berkernyit, “Sometimes it's not what you want to look at that matters, it's what you see. Hujan baru berhenti, kamu lantas berasumsi bahwa syuting bisa cepat selesai karena tidak mungkin hujan lagi. Kamu terjebak oleh kompleks-nya pikiran, mungkin malam mengelabui pandanganmu tentang pekatnya kelabu awan.” begitu katanya tersenyum sambil menatap langit.
Sigh, kadang kita terjebak dalam analisa dan pemikiran kita sendiri, mengurung dan kemudian merespon hati-hati dengan harapan semua akan berjalan sesuai yang kita inginkan. Kita pun cenderung menghukum diri kita atas perbuatan kita, membuat patron-patron didalamnya, melahirkan cara pandang baru terhadap keadaan disekeliling. Padahal hujan selalu mungkin datang lagi, yang kita perlukan adalah payung, bukan sebuah respon angkuh terhadap sebuah fenomena, karena jika itu yang kita lakukan kita tak jauh beda dengan seekor keledai.
Seeing is not always believing. Martin Luther King, Jr.
|
|
2 Comments
|
| |
| Jangan Pake Baju Yang Sama Kalo Tidur! |
| 05.15.05 (7:23 pm) [edit] |
Suasana pernikahan itu tampak khidmat semua undangan tampak berjejal di depan berusaha mendapatkan kesempatan untuk melihat kedua pasangan paling berbahagia pada saat itu. Pernikahan dilangsungkan diluar ruangan, namun udara pagi kala itu cukup sejuk hingga sinar matahari yang menembus ruang-ruang bolong tidak terlalu terasa. Janur kuning dan beberapa ornamen oriental dengan dominasi warna merah tertebar dimana-mana. Kedua mempelai duduk di pelaminan menggunakan baju pengantin dengan nuansa merah dengan aksen putih tertuang lewat motifnya. Kesemua undangan memuji calon mempelai yang walau kedua mukanya tertutup cadar putih kita bisa melihat pancaran sinar kebahagiaan.
Tiba-tiba terdengar suara cymbal diadu memecah decak kekaguman, diikuti oleh tabuhan genderang dan alunan suling membuyarkan perhatian penonton ke sudut lain. Dari balik kerumunan penonton tampak seorang aktor pantomim keluar berjalan perlahan. Penonton terkagum melihat keanggunannya. Dari arah berlawanan ada aktor pantomim lain yang kemudian mencuri perhatian semua undangan, begitu lucu berjalan dengan setelan layaknya Charlie Chaplin. Suara musik semakin gaduh hingga pada satu titik mulai pelan mengalun. Kedua aktor pantomim berjalan mendekati kursi-kursi yang disiapkan lalu berhenti kaku, duduk, musik berhenti. Para undangan bertepuk tangan, pertunjukan telah usai pikirnya, mata mereka berusaha kembali ke singgasana kedua mempelai.
Suasana hening untuk beberapa saat. Namun tiba-tiba ricuh, kedua mempelai sepertinya tidak lagi ada di tempatnya.
Dwang!!! Suara cymbal diadu kembali memecah ruangan diikuti alunan musik oriental yang sama. Kesemua undangan spontan memalingkan perhatiannya keruangan tempat aktor pantomim tadi. Salah satu aktor kemudian menebarkan kain, menari menutup kesemua tubuhnya, membalutnya hingga membentuk sebuah gaun yang indah seperti layaknya seorang pengantin wanita. Disaat yang sama aktor lainnya pun membalut tubuhnya dengan kain hingga membentuk jas. Keduanya berhenti bersamaan dengan musik. Orang tua kedua mempelai naik ke atas panggung dan duduk disamping mereka. Para undangan kemudian menyadari apa yang terjadi. Dan mimpipun berakhir disitu, bersamaan dengan fade out-nya decak kagum para undangan lain di ruangan itu.
I know... i know... inspirasi datang darimana saja. Bukan hal baru sebenarnya, pecinta judi togel, petapa dengan wangsitnya, bahkan sejak zaman nabi-nabi masih sempakan doang, mimpi sudah termanfaatkan, entah benar atau tidak. Somehow, lewat mimpi kita diberi pertanda, lewat mimpi kita diberi inspirasi, lewat mimpi kita jadi apapun yang kita pengenin, singkatnya lewat mimpi kita berharap dan diberi harapan. Lucu, saya sempat berpikir, kalau saja kita mencatat apa mimpi kita setiap malam setelah kita terjaga mungkin kita bisa menguak fenomena de ja vu (runutan peristiwa yang seolah terulang di kehidupan nyata). Tapi akh... Saya terlalu malas untuk memulai, kalau pun iya terjadi, biar blog ini menjadi saksi apa yang saya lihat di mimpi semalam ;p.
I was not looking for my dreams to interpret my life, but rather for my life to interpret my dreams. Susan Sontag
|
|
2 Comments
|
| |
|
|