Blog For Free!


Archives
Home
2008 August
2008 July
2008 June
2008 May
2008 April
2008 March
2008 February
2008 January
2007 December
2007 November
2007 October
2007 September
2007 August
2007 July
2007 June
2007 May
2007 April
2007 March
2007 February
2007 January
2006 December
2006 November
2006 October
2006 September
2006 August
2006 July
2006 June
2006 May
2006 April
2006 March
2006 February
2006 January
2005 December
2005 November
2005 October
2005 September
2005 August
2005 July
2005 June
2005 May
2005 April
2005 March
2005 February
2005 January
2004 December
2004 November
2004 October
2004 September
2004 August
2004 July
2004 June
2004 May
2004 April
2004 March
2004 February
2004 January
2003 December

My Links
tika
vicious vagina's blog
matahari hijau
richoz
prittz
Sascha
New York Lover
ninetyniners
jaja-kosong
lita lestari
mocking bird
footnotefia
erotic rose
sad saga
kriuk-kriuk
Blue Dragon
SANDOZ
stars in the sky
azzaxoxo
dita
farika
G
Gandhi - Second Cup
nana & her thoughts
sim f
hotcelebfemale
backpacker
berandalan
ebo
herbi
felicia sie
nadya
irene
putut
decy
iwank
kutulisgerimis
budibudz
skutukata
arbana
lea
alia's realm
akbar - the journey
fanny
aswin

tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images


Sponsored
Blog



EFFORTLESS BELIEVER
02.28.05 (8:05 pm)   [edit]
Tertarik dengan email minggu kemarin bertajuk “Ramalan Mama Loren”,
bener-bener bikin panik sesaat. Isinya lebih banyak bernada miring,
musibah lebih besar katanya akan menimpa di tahun ini dengan impact
lebih besar dari bencana Tsunami kemaren, hiyyy… amit-amit.

Anyhow, menurut saya, sebuah ramalan adalah seperti Mariah Carey
dalam film Glitters, dia ada tapi ngga perlu ditunggu premierenya,
apalagi keberadaan aktingnya… ;p

Makanya saya jalanin aja waktu ada yang bilang “Loe bakal ktemu
cewe yang satu profesi, jalan cukup lama dstnya.....................”.
Walo agak percaya setelah setengah darinya sudah rada benar.
Still believe on those God’s will though.

“Well, sometimes believing is all we had.”
(Lisa on Team America, The ‘a must see’ Movie!)
2 Comments
 
rumamasadepan
02.24.05 (10:01 pm)   [edit]
3 Comments
 
Waiting in Vain
02.07.05 (9:32 pm)   [edit]
Dari semua pekerjaan, yang paling saya benci, adalah menunggu.
Kecuali menunggu pengumuman kelulusan waktu sekolah dulu,
karena kita diliburkan. Itu pun sebentar dan disoriented, jadi ya kurang seru.

Menunggu jawaban lamaran kerja, atau saat antrian Bank, atau saat macet parah,
lalu saat berjejer membayar barang di supermarket, mungkin karena
beberapa alasan menunggu buat saya jadi less favorite thing to do
than anything in this world.

Memang saya yang kurang sabar, atau membayangkan waktu yang terbuang
sementara kita masih bisa melakukan hal lain, atau bisa juga karena pegal ngga juntrung,
gimana ngga juntrung, kejadian yang kita tunggu mungkin aja
ngga sesuai dengan yang diharapkan.

Lowongan yang tiba-tiba terisi, kasir yang tiba-tiba tutup,
macet parah cuma karena ada polisi bloon salah ngasi arahan,
pacar yang ditunggu-tunggu lantas diserobot orang lain,
tiket konser yang ujung-ujungnya sold-out. Pret!
Makanya saya lebih memilih memutar jauh menghindari macet,
memilih Pertamax karena tidak ngantri, belanja di Ranch Market
karena alasan yang sama. Memilih bergonta-ganti pasangan
supaya waktu mencari "the one" terisi dengan tidak percuma.

Well, you know what?
Butuh kurang lebih 12 tahun untuk sekolah hingga lulus SMA,
butuh 4 hingga 6 tahun untuk jadi sarjana, butuh menabung
untuk membeli sesuatu, butuh bekerja untuk menabung,
butuh kematangan untuk akhirnya menikah,
butuh berjuang untuk hidup.

Sigh.. here's the irony,
apparently we spend the whole time
waiting...



Waiting may seem in the way of us getting to
where we want to go. But many times,
it is through waiting that the sight of
a truer destination appears.

Duke Rohe
4 Comments
 
In the Absence of The Sun
02.07.05 (4:11 am)   [edit]
In the Absence Of Sun
by Duncan Sheik


For all the good you say it does
It feels no better when you've had your say
You may believe it's just because
The words get colder when you're gone away
I thought I understand
What I was to you

I don't want to feel this way
I don't want to say I'm just a friend
I don't want to wait around here
'Cos you don't want to feel no pain again
We just lie about it
As we become shadows of ourselves

Some may fear committed lives
I sure am one of them without you
Does it come to you as some surprise
I laid the ground beneath to doubt you
Was it ever girl
Something you could hold

I don't want to feel this way
I don't want to say I'm just a friend
I don't want to wait around here
'Cos you don't want to feel no pain again
We just lie about it
As we become shadows of ourselves

I don't want to look away
I don't want to be the one denied
It ain't no fault of mine
Someone, somewhere told you lies
But we don't talk about it
We just become shadows of ourselves


Duh, song of the month...
0 Comments
 
BANZAIIIIII!!!!
02.03.05 (6:56 pm)   [edit]
GERAM, REDAM, PADAM
Ode Sebuah Dendam Dalam Sekam

Jangan kau acungkan belati itu ke nadiku,
Jangan kau torehkan silet itu ke mukaku,
Jangan kau lempar tahi lancuk itu ke arahku,
Lalu kau tempelkan ladam membara ke badanku…

Saya pelanduk bertanduk iblis,
Padi dengan bulir-bulir peluru

panas.

Air di kala dahaga
dengan racun di dasarnya.

Maka jika sekali kau acungkan belati itu ke nadiku,
kau torehkan silet itu ke mukaku,
kau lempar tahi lancuk itu ke arahku itu,

Seribu kali akan kau rasakan balasnya.
0 Comments