 Blog For Free!
Archives
Home
2008 August
2008 July
2008 June
2008 May
2008 April
2008 March
2008 February
2008 January
2007 December
2007 November
2007 October
2007 September
2007 August
2007 July
2007 June
2007 May
2007 April
2007 March
2007 February
2007 January
2006 December
2006 November
2006 October
2006 September
2006 August
2006 July
2006 June
2006 May
2006 April
2006 March
2006 February
2006 January
2005 December
2005 November
2005 October
2005 September
2005 August
2005 July
2005 June
2005 May
2005 April
2005 March
2005 February
2005 January
2004 December
2004 November
2004 October
2004 September
2004 August
2004 July
2004 June
2004 May
2004 April
2004 March
2004 February
2004 January
2003 December
My Links
tika
vicious vagina's blog
matahari hijau
richoz
prittz
Sascha
New York Lover
ninetyniners
jaja-kosong
lita lestari
mocking bird
footnotefia
erotic rose
sad saga
kriuk-kriuk
Blue Dragon
SANDOZ
stars in the sky
azzaxoxo
dita
farika
G
Gandhi - Second Cup
nana & her thoughts
sim f
hotcelebfemale
backpacker
berandalan
ebo
herbi
felicia sie
nadya
irene
putut
decy
iwank
kutulisgerimis
budibudz
skutukata
arbana
lea
alia's realm
akbar - the journey
fanny
aswin
tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images
Sponsored
Blog
|
| TWISTED THOUGHTS ON THE CORNER OF MAYBE |
| 07.20.04 (9:04 pm) [edit] |
Saya adalah produk multi kultur, paling tidak itu yang saya rasakan. Bapak saya dilahirkan dari perkawinan seorang Cirebon dan Ponorogo sedangkan Ibu saya mengaku dirinya sebagai ningrat Ciamis. Tapi untuk mengklaim diri saya sebagai orang yang sangat Jawa rasanya juga ngga layak. (lepas dari ketidakinginan saya disebut sebagai suku tertentu). Didalam budaya orang Jawa seringkali lahir keyakinan-keyakinan tertentu yang disebut Kejawen. Mereka percaya peringatan 7 hari, 40 hari, 100 hari kematian seseorang, padahal secara rasional kita dapat kapan saja melakukannya.
Mantan Presiden Pak Harto adalah orang yang sangat terkenal akan kelirumologi ini. Segala Ing Madyo Mangun Karso, Ojo Dumeh, Mangan Ngga Mangan Ngumpul, bahkan arti lagu Vanessa Williams yang “Save The Best For Last” dicurigai merupakan salah satu Kejawen (perhatikan cara makan orang Jawa, pasti ada kunciannya he..he...).
Maka jika ada seseorang bilang saya dulu telah menyia-nyiakannya, saya sempat bingung. Menyia-nyiakan artinya lebih kepada suatu kondisi dimana sebuah benda atau situasi tidak termanfaatkan dengan baik atau maksimal. Masalahnya adalah mungkin karena benda disini adalah manusia, seorang wanita, sehingga memanfaatkannya seperti layaknya sebuah kantong kresek atau sendal jepit atau apapun, adalah tidak etis :twisted: . Mungkin juga saya tidak pernah berpikir untuk memanfaatkan sesuatu atas seseorang untuk kepentingan pribadi atau paling tidak belum berpikir kesitu he..he..
Atau mungkin pada saat itu saya berlaku seperti orang Jawa... you know... Save the best for last... :wink:
"What is better: a lie that draws a smile, or a truth that draws a tear?" Unknown
|
|
3 Comments
|
| |
| RAGIRAGARAGU |
| 07.13.04 (11:27 pm) [edit] |
Di sebuah pojok hari, di dua hela nafas menuju keurungan...
Saya: “Anjrit, diliat-liat makin oke aja dia!” Teman: “Yo’i, sayang udah ada monyetnya…” Saya: “Monyetnya pasti bego, cewenya dari tadi dicuekin, Lihat! senyum gua dibales, dia berdiri... Oh my GOD dia ke luar ruangan, gua samperin ah...” Menahan bangunnya saya dari kursi, teman “Jangan, jangan jadi ragi! Ngganggu makanan orang lain, kaya ngga ada yang lain nganggur aja” ......
Saya: “Dalam lingkaran ekosistem emang harus ada ragi biar seimbang, jadi gua ngga masalah jadi ragi” Teman: “Oh gitu, sekarang coba loe bayangin kalo loe di posisi si monyet!”
Mata saya melihat si monyet yang sedari tadi asik bermain sendiri, sepasang tangan kemudian menariknya pergi, sebelumnya selirik mata dilempar untuk terakhir kali. Saya: “Ya udah, gua urung jadi ragi kok... Eh, tuh dia juga udah cabut ama cowoknya” “Kita cabut juga deh, udah malem nih jack, besok ngantor” ......
Jadi ragi atau termakan ragi adalah proses yang sangat mungkin terjadi, tinggal bagaimana sikap kita selanjutnya. Terkadang jadi ragi seperti durian sebesar batu kali yang jatuh di hadapan kita. Terbaca jelas, sejelas lembar tissue berisi ajakan kencan plus nomor telepon yang sengaja ditinggal cewe tadi. ......
"... We are men of groans and howls, Mystic men who eat boiled owls, Tell us what you wish, oh King, Our magic can do anything." - From Bartholomew and the Oobleck by Dr Seuss-
|
|
2 Comments
|
| |
| WORDLESS TITTLE NEEDED |
| 07.11.04 (10:07 pm) [edit] |
"Reminiscences make one feel so deliciously aged and sad" George Bernard Shaw
The only thing I’m not that good to deal with is to say goodbye to some great memoirs; the depart of a friend, the loss of a father, the split of a girl I once loved, and just yesterday I saw the move of my parent’s house, a house where I spent most of my childhood.
So there I was looking at it for the last time. Every corner of each room, wall, ceiling, window, knob, stairs, has it’s own story. I remember my favourite one is the roof, we could see more from there. More clouds, more houses, more trees, and more stupid kites caught on our antenna :lol: I remember my Dad joined me feeding our pet in the back of our house; I witnessed the married of my two sisters in it. I learn to fight for living since I was a little, and that house is a place I used myself to go back into, in times of trouble. But we made a decision and there's no used of looking back.
(Sigh…) Speechless. Oh well, maybe we need goodbye.
|
|
5 Comments
|
| |
| Theater of Mind |
| 07.07.04 (3:39 am) [edit] |
Matahari siang itu seperti ada sembilan, terik sekali hingga awan putih pun menguap ketakutan meninggalkan warna biru yang bersih. Antriannya terbilang panjang, ada sekitar 8 orang ditiap barisnya berjejer didepan pintu masuk konser musik band rock kenamaan itu. Tenggorokan dan perut saya menjerit, tapi meninggalkan barisan berarti merelakan prestasi hebat, karena saya cukup beruntung bisa ada di urutan 10 meter.
Seorang polisi berdiri di dekat saya, hanya pagar besi ringkih yang memisahkan saya dan lelaki setengah baya itu. Matanya menatap dalam kepada rombongan antrian. Tiba-tiba mulailah dia berkicau mengenai banyak hal-hal yang ngga berkenan buat dia. Mengenai orang-orang yang rela menghabiskan duitnya untuk menonton sekumpulan pemusik luar yang dimatanya tidak lebih bagus daripada konser Soneta.
Kemudian dia melihat saya, memperhatikan dari bawah ke atas, kemudian berkomentar, “Kok pake anting, laki-laki atau perempuan?”. Di konser rock seperti ini, di siang yang terik, di kondisi yang haus dan lapar, di pertanyaan yang sangat menggugah siapapun, saya menjawab, “Di Makasar polisi mukulin mahasiswa tak bersenjata, banci atau banci?”. Pancingan saya mengena, pada saat dia hendak meninju muka saya, saya kasi kode ke teman-teman lain, kesemuanya menarik polisi itu dan memukulnya bertubi-tubi. Cukup menarik perhatian yang lain dan perkelahian massa-pun berlangsung hebat.
Teman-teman menepuk punggung saya hingga segera saja sadar dari lamunan, hmmh... jika hal itu saya ucapkan, maka perkelahian seperti yang dilamunkan pasti tidak dapat dihindarkan. Alih-alih, atas pertanyaannya saya pun menjawab, “Biar pake anting, saya cukup pria untuk menghamili putri bapak”. Terlihat sekali mukanya memerah, baju saya ditarik, saya dibawa ke luar area konser, masuk ke satu bangsal. Sayup-sayup terdengar suara dimulainya konser itu. Bersamaan dengan itu teman-teman polisi lainnya bergantian memukul, menendang, mematikan rokok di tangan, mengencingi, dan memaksa makan-makanan basi.
“Hey, hey, hey” seru teman saya kembali menyadarkan lamunan. Dan polisi itu-pun masih keheranan menanggapi raut muka saya yang kian berubah. Satu pertanyaan... hanya satu pertanyaan yang jika dijawab seperti apapun, hanya akan memancing riuh. Sementara diam, dan memainkan mimik muka sewajarnya mungkin lebih cerdas untuk dilakukan, paling tidak untuk saat ini.
"I am enough of an artist to draw freely upon my imagination. Imagination is more important than knowledge. Knowledge is limited. imagination encircles the World"Albert Estein
|
|
0 Comments
|
| |
| Fact on Being Twenty Something |
| 07.05.04 (7:55 pm) [edit] |
I’m finally here, stuck in a moment at the age of twenty something in the era of open mind, pushed by so many facts around marriage. This is the age where we found enough of things. We found that the society has their opinion about a certain age of marriage. Ironically, we found that marriage itself isn’t such a favourite thing among the young married one. Yet, the benchmark of what we’re looking for is getting higher and higher. Shall we move on or enjoy this view for a moment?
"Whatever you want in life it's yours... Pay the price and take it.." EMERSON
|
|
4 Comments
|
| |
| WANTED! FUCKABLE LIFETIME PARTNER! |
| 07.01.04 (7:27 pm) [edit] |
My female friend asked me out for a glass of coffee. It’s been a while since the last time we met. After a few chitchat, here goes the ultimate question, “ Why here in Indonesia women can’t have the same proposition like men have? Why can’t they ask a guy out, being intimate for a night and forget them in about the same night?”
“I don’t know. Are you asking me?” :wink:
The Cafe played "So Easy" with Axl Rose doing the lead vocal...
"So easy But nothin' seems to please me It all fits so right When I fade into the night So come with me Don't ask me where 'cause I don't know I'll try ta please you I ain't got no money but it goes to show"
|
|
10 Comments
|
| |
|
|